Edisi : Minggu, 15 Juni 2008 , Hal.IX
Cinta pada senior
Angin yang mengalir begitu lembut membuat mata Lira tertutup, tapi kembali terbuka ketika guru mata pelajaran tambahan memanggilnya. Tapi, untung bel segera bunyi tanda harus mengakhiri pelajaran tambahan sore itu.
”Hoahm…,” sambil menutupi mulutnya, Lira keluar kelas dengan tas di punggungnya terasa berat.
”Lir…” sapa Anggi sahabatnya
”Ada apa?” jawab Lira sambil sedikit cemas melihat sahabatnya mengerutkan dahi menahan sakit
”Kepalaku…pusing…,” keluh Anggi
Lira kebingungan ketika melihat keadaan di sekitar kelasnya sudah sepi, ”Ayo Nggi buruan ke UKS aja,” tanpa pikir panjang Lira menuntun Anggi ke arah UKS.
Guwbraaaaaghh…
”Nggi…!!” teriak Lira cemas mengetahui tubuh sahabatnya sudah
jatuh tersungkur di Lantai, tak lama kemudian dari arah belakang seorang cowok berlari ke arah Lira dan Anggi berada.
****
Pagi yang cerah, Lira berlari kecil ke arah ruang kelasnya karena dia ada jadwal piket hari ini.
”Nggi udah baikkan?” tanya Lira setelah mengetahui Anggi sudah membersihkan sebagian ruang kelas
”Iya udah gapapa…,” jawab Anggi sambil tersenyum
”Nggi tau gak kemarin Bang Dicky yang nolongin kamu,” lanjut Lira dengan mulai membersihkan papan tulis. Bang Dicky adalah senior extra Paskibra di sekolah Lira. Lira dan Anggi adalah anggota ektra Paskibra di sekolahnya.
”Apa?” jawab Anggi kaget.
”Gak nyangka Nggi Dia seperti itu,” imbuh Lira
”Ah yang bener Lir…?” tanya Anggi lagi seolah gak percaya
”Bener…suer dech, Dia keren banget waktu itu,” Lira muji.
”Hem…hem…kelihatannya ada yang naksir ni ama Bang Dicky.”
”Ha…engga’…siapa coba yang naksir…,” Lira ngehindar takut ketahuan dia mulai naksir sama bang Dicky, dalam batin Lira (gag tau deh…napa perasaan ini seneng banget, cakep, n’ aku akui aku emang mulai naksir ama Bang Dicky).
****
Beberapa hari kemudian,
”Monday again…I hate Monday…I’m really hate this day,” gumam Lira sambil menuju masuk ke halaman sekolahnya.
”Pasti ada kejadian buruk…atau kabar buruk nimpa aku dech…” lanjutnya.
”Ya ampun…” jerit Lira sambil menghindari sisi jalan.
”Tuh kan belum juga lama aku ngomong, ulet udah di depanku,” omelan Lira berlanjut setelah dia melihat hewan yang dibencinya melintas di dekat sepatunya.
”Lir…tunggu…” belum lama Lira dikagetkan ulet teriakan Anggi juga ngagetin dia.
”Aduh iya…iya…,” jawab Lira sebel sambil menghentikan langkahnya.
Theeeeeeeet….
Beberapa jam pun berlalu dan bel istirahat pun berbunyi.
”Tumben…Alhamdulillah ga’da kejadian yang buat shok banget hari ini,” gumam Lira yang masih duduk diem di kursinya.
”Hei…sadar Non…gak selamanya hari Senin bawa bencana buat kamu,” sahut Anggi yang denger gumaman suara Lira.
”Eh…” Lira kaget
”Iya sih… tapi setiap pikiran bahwa Monday is bad hilang mesti ada ja masalah yang tiba-tiba muncul,” jelas Lira.
”Sekarang engga ‘kan?” tanya Anggi sambil menarik tangan Lira menuju ke lapangan untuk kumpul-kumpul dengan anggota Paskibra lainnya.
Tak lama kemudian mereka sudah tiba dan ikut nimbrung rupanya pembicaraan mulai asyik.
”Eh…temam-teman… katanya junior ga’ dibolehin naksir senior lho…apalagi sampe’ jadian…uh…bisa gawat tuh…,” kata Indah salah satu anggota junior Paskibra.
”Yang bener,” sahut Lira ga’ percaya.
”Iya katanya sih… takut aja ga’ bisa misahin antara ke pacar sama ke junior, gitu…,” lanjut Indah.
”Oh ….gitu ya…,” sahut Evi dengan nada kecewa.
”Lho kenapa Vi,” tanya teman yang lainnya.
”Iya kenapa,” yang lainnya juga ikutan.
”Jujur ya…aku naksir berat ama Bang Dicky,” jawab Evi jujur.
”Ya…,” dengan nada kecewa semua hampir bersamaan menanggapi cerita Evi.
”Lho kenapa? Kalian engga’ setuju?” tanya Evi.
”Bukannya gitu…ya kasian aja Vi…,” sahut Indah.
”Iya…Vi…,” tambah temen yang lain.
Di sisi lain Lira hanya menunduk dan seakan-akan harapannya untuk jadi kekasih Bang Dicky sudah sirna, selain aturan dari organisasinya juga karena ada teman se organisasi dengannya yang suka Bang Dicky. Sulit bagi Lira untuk tidak mengalah pada temannya. Entah itu jadi prinsip hidupnya apa memang dari dirinya sejak dulu seperti itu. Satu-satunya orang yang dapat nenangin Lira hanya Anggi. Anggi mengetahui hal tadi bisa membuat hati sahabatnya kecewa, lalu Anggi mengajak Lira keluar dari lapangan dan menenangkan sahabatnya.
****
Satu tahun sudah Lira memendam rasa cinta di hatinya untuk Dicky. Dan kini tibalah saatnya Lira meninggalkan bangku kelas 10 SMA nya, dan menduduki bangku kelas 11 SMA.
Hari ini hari Senin, hari yang dibenci sama Lira, tapi Pagi ini indah banget. Anggi dan Lira duduk di taman sekolah.
”Lir…kamu pilih jurusan apa?” tanya Anggi.
”Hah…,” Lira tersadar dari lamunannya.
”Lir…ga’ baek…nglamun pagi-pagi,” lanjut Anggi.
”Ga’ nglamun Nggi… cuman gi mikir…,” sanggah Lira.
”Aduh…belum tua uda mikir entar bothak…tau rasa,” goda Anggi sambil tersenyum.
”Hmmm…,” Lira hanya membalas senyuman Anggi yang nyegerin pikirannya.
”Lir…,” Anggi manggil Lira.
”Ada apa?” lanjutnya.
”Engga’ ada apa-apa Nggi,” jawab Lira menghindar lagi.
”Yang bener…kamu kayaknya cemas banget, padahal kita kan naik kelas,” terang Anggi.
”Iya…Nggi aku tau…, aku ga’ kenapa-kenapa,” jawab Lira masih tetep menghindar lagi.
”Lir…, masih belum percaya kah sama aku? Aku teman kamu yang setahun udah nemenin kamu, tetep masih ngga’ percaya ma aku, ga’ mau cerita?” lanjut Anggi membujuk Lira.
Lira terdiam sejenak dan dia paling ga’ bisa kalau Anggi sudah mulai bicara nyangkut-nyangkutin persahabatan mereka.
”Nggi, maafin aku…,” suara Lira lirih.
”Bukannya aku gak mau lagi nemenin kamu, tapi…ini keputusan Ayahku untuk…” cerita Lira terputus.
”Untuk apa? Dia nglarang persahabatan kita?” sahut Anggi berburuk sangka.
”Bukan aku mau pindah ke Solo,” sahut Lira singkat.
Anggi terdiam lalu memeluk sahabatnya erat-erat.
”Lir, walau jarak misahin kita, kita masih sahabatan kan Lir?” tanya Anggi yang ga’ terasa netesin air mata. Lira hanya bisa mengangguk kecil di dalam pelukan erat sahabatnya.
”Biarkan cintaku dan kenangan lama kutinggal di sini dan saatnya aku mulai memikirkan masa depanku, ku ingin mengejar cita-citaku,” kata Lira lirih.
”Apa? Cinta kamu yang selama ini kau pendam? Dan akan kau tinggalkan? Tapi aku setuju dengan keputusan kamu untuk lebih memikirkan masa depan kamu,” repon Anggi mencoba mengerti. Lira mengganggguk. ”Saatnya aku berhenti berharap pada cinta yang mungkin namanya adalah cinta tak sampai…dan untuk masa depanku dan cita-citaku tidak boleh gagal seperti cintaku ini,” terang Lira.
”Semangat, berjuang, dan don’t ever give up!” jawab Anggi sambil bersemangat.
Tidak diduga beberapa menit kemudian Ayah Lira sudah menjemputnya, dan Lirapun segera pamitan ke semua warga sekolah yang dikenalnya mulai dari teman kelasnya, wali kelasnya, guru-guru, kepala sekolah, dan terkhir semua anggota Paskibra, tidak lupa juga dengan sahabatnya. ”Hati-hati ya Lir…,” bisik Anggi di telinga Lira.
Lira hanya mengangguk dan mulai meninggalkan halaman sekolahnya. Setelah tubuh Lira sudah berada di dalam mobil dia masih melihat keluar seolah-olah mencari seseorang. Dan tiba-tiba matanya tertuju pada seseorang yang tak lain adalah senior idamannya, Dicky. Dicky telihat tersenyum pada Lira, dan Lira pun membalasnya. Walau sebenarnya Lira ingin menangis tapi, tertahan di pelupuk matanya.
****
Keesokan harinya, Lira sudah tiba di Kota Solo. Lira turun dari mobil dan langsung menuju rumah barunya dan kamar barunya yang tampak asing baginya. Dan gak lama setelah itu Lira mendapat telepon dari sahabatnya bahwa Bang Dicky senior kebanggaannya juga menaruh hati pada Lira sejak pertama kali Dicky bertemu Lira. Setelah mendengar kabar tersebut Lira hanya tersenyum dan berkata, ”cintaku sekarang pada Bang Dicky berubah menjadi cinta kepada saudaraku dan aku sekarang hanya ingin memperjuangkan masa depanku untuk mengejar cita-citaku karena aku tak mau masa depan dan cita-citaku gagal seperti cintaku pada Bang Dicky,” kata Lira tegas. Kejar cita-citamu jika sudah baru kejar cintamu. - Cerja : Notara Ratu Jelyta DA
http://solopos.net/index_detail.asp?id=67648

0 Tanggapan ke “Cinta pada Senior - Cerja”
Tinggalkan Balasan